Jumat, 11 November 2011

Shalat Membentuk Kepribadian dan Pandangan Dunia Remaja

Shalat dapat membuka pintu horizon ilahi. Saat suara azan dikumandangkan, hati pendiri shalat akan merasakan getaran  spritual dan rasa kerinduan kepada Allah Swt yang memuncak. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa shalat diibaratkan seperti kepala dalam tubuh manusia. Dari ibarat itu dapat disimpulkan bahwa shalat begitu penting dalam kehidupan manusia. Sebab, perumpamaan kepala dalam tubuh manusia menunjukkan peran luar biasa shalat bagi kehidupan manusia.

Shalat yang merupakan pembangun jiwa dan pengubah manusia, sudah sepatutnya menebar semerbak harum bak bunga wangi untuk kehidupan manusia. Menggoyang tembok pembatas yang menjauhkan manusia dari kebaikan, dan mempersembahkan sari kehambaan kepada Allah Swt.

Sebelumnya, telah dibahas tentang penekanan shalat yang harus ditekankan semenjak dini. Telah dijelaskan bahwa norma-norma agama seperti shalat sudah sepatutnya dikenalkan dari masa anak-anak. Tak diragukan lagi, masa anak-anak disebut-sebut sebagai golden eye bagi kehidupan manusia. Dalam kesempatan kali ini, kami akan membahas peran luar biasa shalat bagi masa remaja, setingkat di atas masa anak-anak.

Bagi remaja, ada tiga unsur penting, yakni rumah, sekolah dan media. Pendidikan bukan hanya mentransfer informasi, tapi juga berperan mengubah pandangan dunia. Tentunya, hal ini membutuhkan kesiapan yang cukup. Peran motivasi sangatlah penting bagi pengembangan spiritual remaja. Selain itu, hal yang sangat dibutuhkan dalam membudayakan sholat adalah penanaman spirit sholat di dalam hati manusia.

Etika dan ritual ibadah dapat memenuhi kebutuhan utama spritual manusia. Jika seseorang di masa remaja mengenal adab dan ritual ibadah, ia akan menemukan perasaan akan kondisi ideal dan menyukai nilai-nilai spritual. Perasaan sangat berperan penting dalam membentuk kedewasaan pemuda. Lemah-lembut kedua orang tua sangat mempengaruhi anak dalam menerima nasehat dari mereka. Bahkan dapat disimpulkan bahwa pengaruh nasehat kedua orang tua bergantung pada sikap mereka. Dengan demikian, kondisi keluarag dan sikap orang tua sangat berpengaruh bagi kesadaran remaja akan shalat

Perasaan konstruktif akan kewajiban-kewajiban agama sangat dipengaruhi dengan perilaku keluarga kepada remaja. Perasaan positif akan ajaran agama membentuk perilaku logis bagi remaja. Pada faktanya, kecenderungan remaja pada shalat, puasa dan perilaku positif bermula dari pendidikan sehat di tengah keluarga. Dengan demikian, keluarga sangat berperan penting dalam membentuk kepribadian seseorang, khususnya di masa remaja.

Tak diragukan lagi, para remaja sangat haus akan ilmu. Mereka membutuhkan ketenangan dan kontak pada sumber kekuatan dan rahmat. Mendengar suara malakuti al-Quran dan zikir-zikir shalat yang menyejukkan hati serta mencontoh figur-figur yang baik dapat menngokohkan kecenderungan remaja terhadap agama dan nilai-nilai religius.

Kecenderungan Spiritualitas Muncul di Masa Remaja

Menurut pandangan para psikolog, kecenderungan akan agama, akhlak dan kondisi religius muncul di masa remaja dan baligh. Mouris Debs yang banyak melakukan riset di bidang psikologi, mengatakan, "Kecenderungan pada agama muncul di masa remaja dan baligh, bahkan hal itu juga dialami bagi orang-orang yang tidak akrab dengan agama. Perubahan ini adalah bagian dari kedewasaan remaja." Dikatakannya pula, "Antara umur 15 dan17, banyak pemuda dipengaruhi  panggilan religius dan keberanian. Mereka berharap dapat merekonstruksi dunia dari awal, memberantas kebatilan dan menerapkan keadilan."

Sebagaimana disinggung  sebelumnya bahwa kondisi religius sarat dengan ketenangan diri dan banyak remaja haus akan kondisi ini. Tentunya, kenikmatan spritual berbeda dengan seluruh kenikmatan di dunia ini. Dalam kenikmatan duniawi, seseorang akan merasa puas dan klimaks setelah mendapatkannya. Akan tetapi berbeda dengan kenikmatan spritual. Dalam kenikmatan spritual, manusia tidak akan merasa puas.

Agha Saberi, seorang remaja brilian yang meraih medali di olimpiade kimia pada tingkat dunia, mengatakan, "Kepercayaan kepada Allah Swt yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana, membuat saya terbebas dari kesia-siaan yang meliputi banyak remaja dan pemuda di dunia saat ini. Ketika bersembahayang, saya merasakan seakan-sekana meraih titik kontak yang luar biasa dan kenikmatan puncak. Kenikmatan beribadah sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan lainnya. Saya benar-benar dapat merasakan bahwa kenikmatan spritual dapat menyinari hati dan mempersembahkan kasih sayang yang luar biasa. Ini merupakan hal yang luar biasa."

Shalat dan ibadah dapat diibaratkan seperti bintang bagi remaja dan pemuda. Marry asal Eropa yang baru memeluk agama Islam dan mengganti namanya dengan Fatimah, selama beberapa waktu mengalami kondisi skeptis. Berkat petunjuk teman-temannya, ia mengkaji al-Quran dan pada akhirnya, menyimpulkan bahwa kitab suci ini mempersembahkan interpretasi baru dalam kehidupan ini.

Mengenai sholat, ia menceritakan pengalamannya, dan mengatakan, "Setelah melakukan riset beberapa lama, saya akhirnya menemukan titik terang. Pada malam hari setelah memeluk Islam, saat saya berkumpul dengan teman-teman muslim, terkesima dengan daya tarik spritual mereka. Dengan mendengar suara al-Quran dan gema azan yang menenteramkan hati serta menyaksikan barisan shalat, saya merasakan getaran luar biasa pada diriku. Saya seakan-akan memasuki dunia baru. Saya benar-benar merasakan kelezatan luar biasa. Saat itu, saya dengan sendirinya, terpanggil bergabung dengan barisan shalat. Meski belum tahu apa yang diucapkan, tapi saya seakan-akan terbang melayang ke alam malakuti. Itulah pengalaman pertama shalatku." (IRIB )benher)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar